Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label curhat si senja

jika kita bukanlah suatu takdir yang akan dipersatukan Tuhan

kemudian kita seolah telah menyatu menjadi satu karena satu alasan, nyaman bukankah kita diciptakan berbeda lalu mengapa memaksakan untuk terus bersama egomu dan egoku tak mungkin seiring langkahmu dan langkahku pun tak bisa beriring jalan kita berbeda, terlalu jauh untuk disamakan dan pegangan yang dulu erat, pasti akan terlepas sekeras kita mencoba, sesering kita berdoa kita menyebut Tuhan dalam beda nama pantaskah bersanding meski atas dasar cinta ingin disudahi, tetapi terlanjur mengerat berat melepas lalu menghilang saling melupakan yang tak bisa dilupakan dan kemudian angkuh akan menyapa kelak

Hujan, Secangkir Kopi Hitam, dan Piebis Pemberianmu

Senin, di akhir September Senyummu begitu menggoda memoriku Membuatnya kembali merangkum kenangan Dakam setitik rindu yang sudah tak begitu menggebu Ku nikmati saja senyummu yang manis Meski pun tak mampu terpecah tangis Merasakan kembali perih kehilangan Terluka harus melepasmu Dan sore ini, langit menurunkan hujan Derasnya mampu menyamarkan kegalauan Secangkir kopi hitam, tak lebih pahit Ketika aku harus melihat senyum bahagia bersama kekasihmu Dalam sebuah potret kemesraan yang begitu mengusik logikaku Mungkin kau lupa pernah memberiku piebis yang manis Yang hingga sekarang masih bisa aku sisakan Sekedar untuk mengingatkanku, Kau pernah menjadi milikku Sore ini aku ditemani hujan,secangkir kopi hitam,     piebis pemberianmu, dan kenangan saat aku milikmu yang pernah menjadi milikmu,    Agatha

ujung pencarian

tapakilah jalanmu meski sepi walau sendiri kau harus yakin akan ada kebahagiaan setelah kau berhasil melewatinya bukan tentang sepi saat kau berjalan sendiri atau tentang sendiri saat melewati sepi tegaplah dan tetaplah percaya meski kau sendiri dalam kesepian kau bisa menikmati dan mengakhiri ketika kau temukan seseorang di ujung pencarian

berharap tak seberantakan kemarin

ketika akhirnya aku mengakui rinduku dan aku pun tau ada juga rindunya untukku meski pun dia bertahan dalam diam jarak dan pengakuannya setelah pengakuanku ada letupan yang membakar egoku untuk bisa memilikinya lagi dan hatiku begitu berdebar tak seberantakan saat dia meninggalkanku ku harap begini saja karena begini saja bisa membuatku lebih tenang

karena merindukanmu sangat sulit aku bisikkan di telingamu

Dua puluh dua hari. Biasanya gue selalu apal setiap tanggal spesial. Tapi setaun ini, gue terlalu malas mengingat-ingat tanggal – tanggal spesial di hidup gue. Bukan karena hidup gue biasa aja. Tapi justru gue merasa setiap waktu gue itu spesial. And now , gak tau kenapa tiba – tiba gue begitu mengingat tanggal 12 bulan Juli ini. Gue mengakhiri suatu hubungan dengan seorang cowok. Versi gue sih ya tanggal itu. Gue gak peduli juga menurut dia, atau orang – orang, kapan gue kelar punya hubungan sama dia. Dan gue juga tiba – tiba pengen nulis lagi. Buat gue, menulis itu bisa jadi temen bicara di keterdiaman, gue gak perlu ngomong sama siapa pun, gue cuma tinggal nulis aja. Nulis apa aja. Nulis apa yang gue suka. Gak ada yang ngebatesin gue. Gue bebas jadi apa yang gue mau. Gue itu bukan orang yang suka nyimpen perasaan, yang suka mendem apa yang gue rasain. Kalo gue kangen, ya gue bilang kangen, kalo gue gak suka, ya gue bilang gak suka, kalo gue marah, gue juga gak sok baik – ba...

cinta ini tulus tapi tak bisa dipaksakan untuk bersanding

akhir yang aku takutkan, terjadi juga di sela kerinduan aku tak pernah bisa bertahan, pada jarak yang membentang hubungan tapi aku bisa bertahan, ketika semua tertuju padamu aku merindu, kau merindu kita pun begitu tau dan rindu itu menyatu, padu ketika raga bertemu bukan untuk mencinta, bercinta hanya untuk saling menatap, menggenggam di akhir waktu kita bersua karena kita memang harus berpisah bukan karena jarak karena kita memang tak bisa agatha 210716

kali ini, aku tak akan memaksa hatimu

jika bahagiamu bukan denganku pantaskah aku memaksa hatimu untuk memilihku meski sesungguhnya, aku berharap kau memilihku begitu berharap, hati kita menyatu dalam satu jalan terjawab sudah aku bahagia bersamamu tapi bahagia kita tak bisa satu dan biarkan aku melepaskanmu memberi ruang untuk mimpimu meski pun bukan denganku

bukan di Januari

aku kira, kita bisa lebih lama dari ini berdua meski tak selalu bisa bersama bukankah sudah sejauh revolusi bumi perasaan kita disepadankan asa kita berkejaran dan malam itu begitu kelabu tangisku yang tak ingin melepasmu meluluhkan hatimu untuk tetap bertahan dan malam yang lain datang dengan kelabu sudah tak sederas deraian airmataku yang dulu tapi "aku baik - baik, saja"-ku, membuat kau ingin tetap menggenggamku separuh putaran bumi berlalu setelah malam kelabu kedua yang dipaksakan tak akan pernah bisa dipaksakan malam kelabu yang begitu sendu dua malam yang lalu asa kita yang dulu membara, menyala terang bukan saja redup, tetapi padam kau bisa bayangkan seberapa hancurnya perasaanku ku kira tak perlu sejauh itu kau sendiri juga merasakan bagaimana menjadi keping-keping yang remuk entah karena tau semua pasti akan berakhir atau karena aku telah berserah aku menerima keputusanmu dengan senyum dengan lapang yang...

aku tunggu kabarmu

aku menunggu suaramu di sudut telingaku meski pun jauh di sana tapi terdengar dekat lewat telepon aku menanti obrolan seru denganmu  tanpa harus aku yang lebih dulu memulai tak harus aku dulu yang mengirim pesan entahlah berbagi cerita denganmu membuatku lebih bersemangat kau menciptakan dunia kita sendiri yang hanya ada aku dan kamu kau menciptakan zona kita sendiri yang cuma untuk kamu dan aku aku merindukanmu dalam tawa dan canda aku tunggu kabarmu

Perempuan yang Harus Mengikhlaskan Janji Lelaki

kau harus bisa merelakan apa yang tak bisa disatukan manusia entah karena suatu hal atau beberapa hal yang mungkin tak begitu baik bila bersama di saat kau pikir ini ketidakadilan itu hanya ketakutanmu akan kesendirian hatimu kuat bahkan seharusnya lebih kuat dari saat ini saat di mana kau tak lagi diberi harapan untuk berharap ketika kau tak diberi kesempatan memperjuangkan perasaanmu hatimu tangguh lebih tangguh dari waktu ini waktu di mana luka-luka hatimu tersiram cuka ketika kau tetap tersenyum menahan perih yang tertoreh atas manusia yang kau sayangi lalu aku bisa apa aku tak setegar hatimu yang tetap mencintai dalam ketiadaan hubungan yang tetap memuja meski telah diabaikan  yang tetap menjaga dalam jarak yang tak dikira aku bisa apa selain berterimakasih karena kau mengajarkan cinta itu tak selamanya akan setindak dengan ingin kita karena kau menjadikanku manusia bermakna, yang selalu kau rindukan terimakasih peremp...

ketakutan

sepertinya kau belum terlalu paham bagaimana perasaanku setidaknya setelah kisah kita berakhir mengapa aku begitu takut jika kau berubah sikap mengapa aku begitu khawatir ketika kau tak bertukar kabar mengapa aku lebih menunjukkan posesifku karena aku hanya pengalaman yang telah kau lewatkan karena aku hanya seorang mantan yang tak lagi berhak atasmu bisakah aku memaksamu untuk terus setia kepadaku bisakah aku memaksamu untuk selalu memberi kabar tentangmu bisakah aku memaksamu untuk tidak melakukan ini dan itu aku menyadari siapa aku kini dan aku pun harap kau memahami betapa takutnya aku kehilanganmu selebihnya, jika aku terlihat banyak berulah aku hanya berharap, kau bisa mengerti mengerti perasaanku bukan terganggu karenanya

bahagia itu sederhana

Tuhan punya banyak cara membuat kita tersenyum dan bahagia, hanya kita saja yang terlalu senang berdiam dalam kesedihan dan keterpurukan.. Kawasan Konservasi Hutan Mangrove Desa Pasar Banggi - Rembang

Perempuan Itu Saya

“Sayang, aku lagi liat katalog produk kecantikan nihh,” kataku sambil membolak-balik halaman dan memperhatikan detailnya. “Terus,” tanya seseorang di seberang telepon. “Ada promo lipstick nih, Yank. Aku beli yaa,” tanyaku meminta persetujuan. Lalu hening. “Emang lipstick Sayang uda habis, kok mau beli lagi ?” “Lagi ? Kan aku uda lama gak beli lipstick, Yank. Lagian yang warna ini tuh bagus, Yank. Lagi ada promo pula. Kan sayang banget kalo sampe keabisan. . . “ “Sekarang punya lipstick berapa ? Masih kurang sampe kudu beli lagi,” nadanya sedikit lebih tinggi. Tapi masih terdengar tidak mengancam. “Banyak sih, Yank. . . Ada sekitar dua puluhan gitu kayaknya,” jawabku enteng. “Dua puluh itu masih kurang sampe mau beli lagi. Mau sejam sekali ganti lipstik ?” “Sayang kok gitu sih, sensi amat. Bilang aja gak boleh. Beres kan ?” “Kalo dari awal tadi aku bilang gak boleh, apa Sayang gak marah dan langsung nurutin aku ?” “Ya kan aku belom punya yang warna itu, Yank. . . Bo...

Short Pant

Saya sudah cukup nyaman memakai celana pendek, kaos, dan sandal. Selain lebih kasual, perpaduan itu memang saya banget. Santai. Enggak ribet. Dan yang terpenting adalah nyaman. Bukan berarti baju dengan model yang lain tidak membuat saya nyaman. Tapi entahlah, rasanya berbeda dengan kebanyakan orang yang memilih terlihat rapi. Rapi memang perlu. Tapi terlalu rapi, sepertinya bukan pilihan yang bagus untuk saya. Setidaknya, saya bukan manekin yang jadi korban mode orang lain. Saya tau apa yang saya inginkan. Saya bebas memilih apa yang saya pakai. Tanpa ada batasan. Tanpa perlu merasa aneh. Dan saya bertanggung jawab sepenuhnya dengan apa yang saya pakai. Orang mau berkomentar, itu hak mereka. Saya pun juga berhak untuk memilih. Mendengarkan omongan mereka atau mengabaikan ocehan mereka. Simpel kan ? Sesimpel apa yang membuat saya nyaman dalam berpakaian. Meski pun di acara resmi sekali pun, ketika saya nyaman memakai pakaian kasual, saya akan memakainya. Saya tidak suka ribe...

Kau, Aku, Keyakinanmu, dan Kepercayaanku

Semilir berhembus Tapi tak juga menyejukkan gelisahku Perbincangan yang kau ciptakan siang ini,      begitu menyesakkan nalarku Kau. . Kau itu. . . Arghhh. . . . . . . . Kau dengan keyakinanmu Aku dengan kepercayaanku Kita sadar kita berbeda Kita tau kita tak sama Mengapa dipaksakan ? Bukankah akan saling menyakiti jika tak mampu bersama Atau kita yang terlalu berani memilih jalan kita sendiri untuk kita lalui berdua Kau dengan langkahmu Aku dengan langkahku Menuju titik yang sama Beriringan tapi tak bergandengan Karena kita tau, kita memang berbeda Kau dengan aturanmu Aku dengan aturanku Begitulah kita Kita berbeda

Mimpi Sederhana

Pantai Klayar, Pacitan aku ingin duduk berdua denganmu, berdampingan di tepian karang, menjuntaikan kaki-kaki kita yang penuh dengan peluh pasir menikmati laut luas, yang seakan tak terbatas merasakan kecupan angin, yang membelai dalam terik mendengar ombak bergemuruh, memecah saat berhadapan dengan karang membiarkan matahari membakar raga dengan ganas menikmati percikan ombak, yang berbenturan dengan karang tempat kita terdiam lalu, genggaman kita semakin erat beriringan dengan doa terucap aku ingin memilikimu, dan aku ingin menjadi milikmu hanya itu saja bisakah kau mewujudkannya ?