Langsung ke konten utama

cerita kami, cerita tentang sebuah pilihan

hujan malam itu memisahkan raga kami
menyisakan khawatir di detak-detak jarum menuju dini
namun di ketenangannya, masih saja nikmat secangkir coklat panas di hadapan
sedang aku tak mampu berpejam menutup lelah

lalu pagi memaksa diri terbangun di antara kegelapan dan kejamnya dingin
masih saja dengan rerintikan hujan sisa semalam
iya, hujan semalam itu masih setia menyertai pagi kami
pagi di mana kaki kita melangkah untuk kembali bertemu

kau berlarian tak ingin melewatkanku
aku ketakutan tak ingin kau melewatkanku

dan di sudut jalan itu, langkah kami beriring dalam putaran roda menuju ke timur mentari
saling menggenggam, tak ingin melepaskan meski sejenak
saling memeluk, tak ingin melepaskan meski sekejap

kedekatan ini, seperti magnet yang mengundang banyak mata ingin memperhatikan
kemesraan ini, seperti hempasan badai menghancurkan hati yang ingin memiliki

bukan kesalahan
ini pilihan yang kami perjuangkan
di antara kesendirian yang telah begitu lama mengasingkan
kami, dan cinta untuk saling memiliki dan berbagi

dan genggaman kami, kami harap akan tetap saling menggenggam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Awal

Aku bukan ketiga dari rentangmu dengan dia Kau sendiri bukan pelarian dari kisahku yang berakhir Jika memang aku teman hidupmu Lantas mengapa berlama menautkan hati kita Mengapa harus bertemu dan berkasih dengan hati yang dulu Sedang kau begitu setia menjaga rasa Di antara raguku yang menyergap di awal Dengan sombong, ku cegah pedulimu meluluhkan angkuh Ku batasi rasa rinduku agar tak kerap wajah kita beradu Dan kau memenangkan segala kelebihanku Dengan menyapa kekuranganku penuh hangat Hai pria yang kini bersamaku Mari eratkan genggaman Karena kita tak pernah tau Kapan godaan dan ujian menghampiri Sekedar mampir atau ingin memporakporandakan Kepada teman hidupku yang tetap bertahan Terimakasih telah membuatku juga bertahan Kecup dan pelukku untukmu tertanda, Perempuan yang selalu menjadi teman tidurmu

bidadari

mengapa engkau pergi di mana engkau kini ke mana kami mencari peri kecil kami, telah menjadi bidadari tak terasa telah dewasa tapi jangan pernah pergi tinggalkan kami kembalilah bidadari kami engkau kuat, kami tau itu tapi tiada arti engkau sendiri pulanglah bidadari kami menanti di setiap detik berganti buat adekku, etta

terimakasih, masa lalu

bahkan, setiap luka yang kamu berikan, bisa saja aku menjabarkannya dengan detail tapi buat apa ? toh, kamu pun bersikap semua kesalahanmu itu adalah khilaf yang harus aku maafkan kamu mengucap maaf untuk memulai lagi kesalahan yang baru dan aku hanya bisa takjub, semudah itu ? aku selalu mengataimu sadis, dan berharap karma akan mengetuk hidupmu satu saat nanti tapi tak aku lanjutkan, karena satu kata sakti yang bisa aku raih ikhlas aku berdiam saja dengan dramamu, aku bisa tersenyum saat kamu mulai mengarang absurd aku cukup menata keporakporandaan dari sakit hati yang selalu kamu bagi dan apakah kamu menyadari, semesta tak akan tinggal diam dengan ulahmu semesta telah membiarkanmu merasakan apa yang aku rasakan dulu terimakasih, masa lalu darimu aku belajar, bahagia itu tak harus menunggu bahagiaku aku ciptakan dengan sosok yang bisa menghargai segala pemikiranku, ambisi jiwaku, dan kerumitan yang dengan suka cita aku urai bersama dia