Langsung ke konten utama

Pujaan

Beriring, awan-awan yang menggelap, memaksa hati menutup rapat. Di balik pintu aku menunggu. Entah mengapa aku masih menunggu. Sedangkan aku begitu tau. Cintamu dan hatimu tak tertuju untukku. Tapi aku masih menunggu. Berkhayal bersama ribuan mimpi yang tak pernah menyudahi memberi arti. Berpeluk dengan harapan yang entah kapan akan berhenti. Ataukah harus terhenti. Dipaksakan pun, aku tak pernah bisa mengatakan tidak untuk melepasmu.

Malam melarutkan sendu dan piluku. Berapa lagi airmata yang musti membayar kerinduanku. Sedang kau di sana berpeluk, bermesra dengan kekasihmu. Aku cemburu. Tapi, tak yakin aku mampu, mengisyaratkannya kepadamu. Kepada perempuan yang telah memasungku pada kesetiaan bodoh. Perempuan yang dalam senyumnya begitu memikat naluriku.

Mentari menggeliat mencairkan beku malam. Tapi hatimu tak sedikit pun meleleh tersiram bara yang begitu membakar. Terlalu dingin. Hanya sekedar untuk menatapku. Mesramu menyayat hatiku. Meski tak sesakit luka yang aku goreskan dulu. Sungguh, aku sangat ingin berdiri di sampingmu. Menjadi penjaga dan pelindungmu. Bukan memimpinmu dengan arogansiku.

Hingga sesaat itu aku melihatmu. Matamu mencuri dalam kediaman surya yang menyirat dalam jingga. Matamu membinarkan cahaya yang begitu terang seterang ribuan bintang. Hanya sesaat. Hanya sekejap. Dan sebentar saja memang tak cukup buatku, untuk menikmati matamu yang penuh damai menatapku.

Damai. Begitu damai. Meski begitu singkat. Meski terasa sesak, sesudahnya. Perempuan yang masih menyimpan dukanya. Perempuan yang masih memelihara lukanya. Karenaku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Awal

Aku bukan ketiga dari rentangmu dengan dia Kau sendiri bukan pelarian dari kisahku yang berakhir Jika memang aku teman hidupmu Lantas mengapa berlama menautkan hati kita Mengapa harus bertemu dan berkasih dengan hati yang dulu Sedang kau begitu setia menjaga rasa Di antara raguku yang menyergap di awal Dengan sombong, ku cegah pedulimu meluluhkan angkuh Ku batasi rasa rinduku agar tak kerap wajah kita beradu Dan kau memenangkan segala kelebihanku Dengan menyapa kekuranganku penuh hangat Hai pria yang kini bersamaku Mari eratkan genggaman Karena kita tak pernah tau Kapan godaan dan ujian menghampiri Sekedar mampir atau ingin memporakporandakan Kepada teman hidupku yang tetap bertahan Terimakasih telah membuatku juga bertahan Kecup dan pelukku untukmu tertanda, Perempuan yang selalu menjadi teman tidurmu

yuda tucal tucil

Pria Yang Tak Lagi Setia

Senyummu mengembang, lebar Rona bahagia tersurat dari wajah wanita paruh baya Menyaksikan anak laki-lakinya mengucap akad Berjanji menjadi imam bagi wanita di sepanjang nyawa Foto pernikahanmu tercetak lebar menggantung di dinding Kebaya putih yang dipakai mempelaimu masih terlihat bersih Tapi mengapa ragu ikut pula menggantung di salah satu sisi hatimu Menyesalkan sikap seorang perempuan yang tak bisa menghargaimu sebagai pria Senyummu mengembang, meski hanya di sudut Bercerita tentang kehidupanmu yang bahagia dengan wanita dan seorang putra Wanita paruh baya yang dulu bahagia, masih membawa rona yang sama Meski di dalam kekhusyukan doa, melepas segala tangis,      karena anak laki-lakinya berdusta Senyum yang selalu diperlihatkan kepada puluhan pasang mata,      hanya topeng menutup berjuta amarah Tangis yang hanya terpenjara dalam diam, saksi hatimu telah hancur Kau pulang, tapi jiwamu melayang dalam dunia berlainan Berlarian mengejar kisah yang penuh ke...