Langsung ke konten utama

Bercinta

Matamu menggoda
Mengundang hasratku
Senyummu menyuruh otakku
Mendekat memeluk ramping pinggangmu
Bibirmu
Ingin aku menciumnya dalam nafsu

Kau mendekat
Berbisik lirih
Mengecup leherku
Mencium lembut ujung bibirku
Meninggalkan bekas lipstikmu

Aroma parfummu membangkitkanku
Memaksaku untuk mendekap tubuhmu

Ohh, wanita penggodaku
Jatuhkan ragamu di atasku
Luapkan nafsumu dalam rengkuhanku
Biarkan desah kita menyatu dalam irama

Setiap sentuhanmu mendesirkan darahku
Setiap kecupanmu memacu degupku
Setiap gerakmu memaksa mataku menatapmu

Ahh, wanita liarku
Jadikan aku mangsamu
Biarkan aku menikmati pemaksaanmu atasku

Meski hanya sekali ini saja
Untuk malam ini saja
Dengan senang hati aku mau menjadi korbanmu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Awal

Aku bukan ketiga dari rentangmu dengan dia Kau sendiri bukan pelarian dari kisahku yang berakhir Jika memang aku teman hidupmu Lantas mengapa berlama menautkan hati kita Mengapa harus bertemu dan berkasih dengan hati yang dulu Sedang kau begitu setia menjaga rasa Di antara raguku yang menyergap di awal Dengan sombong, ku cegah pedulimu meluluhkan angkuh Ku batasi rasa rinduku agar tak kerap wajah kita beradu Dan kau memenangkan segala kelebihanku Dengan menyapa kekuranganku penuh hangat Hai pria yang kini bersamaku Mari eratkan genggaman Karena kita tak pernah tau Kapan godaan dan ujian menghampiri Sekedar mampir atau ingin memporakporandakan Kepada teman hidupku yang tetap bertahan Terimakasih telah membuatku juga bertahan Kecup dan pelukku untukmu tertanda, Perempuan yang selalu menjadi teman tidurmu

yuda tucal tucil

Pria Yang Tak Lagi Setia

Senyummu mengembang, lebar Rona bahagia tersurat dari wajah wanita paruh baya Menyaksikan anak laki-lakinya mengucap akad Berjanji menjadi imam bagi wanita di sepanjang nyawa Foto pernikahanmu tercetak lebar menggantung di dinding Kebaya putih yang dipakai mempelaimu masih terlihat bersih Tapi mengapa ragu ikut pula menggantung di salah satu sisi hatimu Menyesalkan sikap seorang perempuan yang tak bisa menghargaimu sebagai pria Senyummu mengembang, meski hanya di sudut Bercerita tentang kehidupanmu yang bahagia dengan wanita dan seorang putra Wanita paruh baya yang dulu bahagia, masih membawa rona yang sama Meski di dalam kekhusyukan doa, melepas segala tangis,      karena anak laki-lakinya berdusta Senyum yang selalu diperlihatkan kepada puluhan pasang mata,      hanya topeng menutup berjuta amarah Tangis yang hanya terpenjara dalam diam, saksi hatimu telah hancur Kau pulang, tapi jiwamu melayang dalam dunia berlainan Berlarian mengejar kisah yang penuh ke...