Langsung ke konten utama

bertemu angin

aku bermimpi
dalam mimpi aku bertemu angin
angin yang dulu selalu membelaiku
di mimpi itu, angin juga membelaiku
belaiannya masih sama
tapi tak sesepoi belaiannya dulu
sepoinya telah dibagi dengan yang lain
sepoinya menjadi milik yang lain
dalam mimpi itu, angin bergumam
lirih berbisik
melagukan sepoinya yang disia-siakan oleh yang lain itu
tapi angin tetap membelainya
memendam kesedihan dengan tulusnya
dalam mimpi itu, angin memelukku
bukan dengan sepoinya
dengan beliung yang menghantam perkasanya
menghancurkan gagahnya
angin menangis

aku terbangun
tapi angin (sudah) menghilang
meninggalkan (aku) (dengan) mimpi semalam tadi

belaiannya cuma (di) mimpi

Komentar

  1. nice...tetap eksis dengan intuisi

    BalasHapus
  2. penilaian yg terlalu cepat teman..
    ato sudah lama mengikuti karya saya ??

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Awal

Aku bukan ketiga dari rentangmu dengan dia Kau sendiri bukan pelarian dari kisahku yang berakhir Jika memang aku teman hidupmu Lantas mengapa berlama menautkan hati kita Mengapa harus bertemu dan berkasih dengan hati yang dulu Sedang kau begitu setia menjaga rasa Di antara raguku yang menyergap di awal Dengan sombong, ku cegah pedulimu meluluhkan angkuh Ku batasi rasa rinduku agar tak kerap wajah kita beradu Dan kau memenangkan segala kelebihanku Dengan menyapa kekuranganku penuh hangat Hai pria yang kini bersamaku Mari eratkan genggaman Karena kita tak pernah tau Kapan godaan dan ujian menghampiri Sekedar mampir atau ingin memporakporandakan Kepada teman hidupku yang tetap bertahan Terimakasih telah membuatku juga bertahan Kecup dan pelukku untukmu tertanda, Perempuan yang selalu menjadi teman tidurmu

yuda tucal tucil

Pria Yang Tak Lagi Setia

Senyummu mengembang, lebar Rona bahagia tersurat dari wajah wanita paruh baya Menyaksikan anak laki-lakinya mengucap akad Berjanji menjadi imam bagi wanita di sepanjang nyawa Foto pernikahanmu tercetak lebar menggantung di dinding Kebaya putih yang dipakai mempelaimu masih terlihat bersih Tapi mengapa ragu ikut pula menggantung di salah satu sisi hatimu Menyesalkan sikap seorang perempuan yang tak bisa menghargaimu sebagai pria Senyummu mengembang, meski hanya di sudut Bercerita tentang kehidupanmu yang bahagia dengan wanita dan seorang putra Wanita paruh baya yang dulu bahagia, masih membawa rona yang sama Meski di dalam kekhusyukan doa, melepas segala tangis,      karena anak laki-lakinya berdusta Senyum yang selalu diperlihatkan kepada puluhan pasang mata,      hanya topeng menutup berjuta amarah Tangis yang hanya terpenjara dalam diam, saksi hatimu telah hancur Kau pulang, tapi jiwamu melayang dalam dunia berlainan Berlarian mengejar kisah yang penuh ke...