Langsung ke konten utama

Postingan

seorang perempuan di ujung senja dan seorang lelaki beraroma jingga

seorang perempuan di ujung senja tersedu dalam keheningan terduduk pilu dalam kebimbangan terluka oleh yang dicinta dikhianati oleh yang dipercaya cinta tak hanya menjejakkan bahagia kepedihan terkadang menyelimuti tawa dan seorang lelaki datang di antara sekelebat getaran menggugah rasa seorang lelaki mendekat menceritakan kegelisahan hubungan tanpa kabar perempuan senja yang berteman dengan lelaki jingga berdua, berbagi cerita cinta yang menyedihkan namun mereka tertawa, menertawai luka bersama perhatian bergerilya dalam gundah kesendirian menyapu luka kenangan kelam tersingkir sepi terisi riang rindu perlahan merasuki celah kesepian saling berdebar kemudian, ketika mata beradu pandang dan setiap kata yang terucap seakan telah se-ia setiap gerak tercipta seakan telah seirama seorang perempuan di ujung senja dan seorang lelaki beraroma jingga menyatu dalam satu genggaman bertajuk cinta seorang perempuan di ujung senja dan seorang lelaki beraroma jing...

Rasa dan Aksara

Dan kamu masih saja berdiri di sana, di satu perasaan yang tak pernah berhenti untuk sejenak berpaling. Sekedip saja, tak memperhatikanku. Bisakah ? Ohh, dan kamu masih saja berkata aku adalah kejahatan terbesar di sepanjang hidupmu. Tentu kau bercanda kan ? Atau aku yang menyebabkan kau menjadi seperti sekarang ? Benarkah aku jahat ? Kita pernah terjatuh pada satu keadaan yang tak seharusnya dijalani. Kita saling berdegup saat bertatap di kejauhan. Saling memendam hasrat untuk bergandengan. Dan semua itu salah. Bukankah sudah kujelaskan kepadamu, apa yang terjadi di masa lalu kita adalah salah. Tidak seharusnya itu terjadi. Tapi siapa yang bisa menghentikan perasaan. Aku, dulu, seharusnya tidak menanggapi perhatianmu. Seharusnya aku bersikap biasa saja ketika tak ada kabar darimu dalam sehari, atau beberapa hari, seminggu, atau sebulan tanpa kabarmu. Tapi, waktu itu, aku tak bisa. Maafkan aku, bukan aku membencimu. Bukan aku menghukummu. Tapi mengertilah, ini tak akan muda...

mendung

aku sendu pelangiku luruh berganti kelabu aku hanya merindukanmu tapi tak sedikit pun kau peduli rasaku sudahi saja jika ingin aku berlalu dan segala asaku dulu ku anggap kau sudah tak mau tau

sepotong kecil kenangan yang selalu aku jaga

suatu pagi di Minggu yang cerah langit menghampar biru tak ada setitik putih gumpalan awan berlarian aku pulang ke rumah tubuhku penuh peluh namun hawa bumi begitu menyejuk raga pun aroma kopi buatan ibu diletakkan saja di atas meja entah untuk siapa beliau menyeduhnya aku ambil gelasnya dan aku ciumi harumnya aku terbaring, terdiam, terpejam langit biru, pagi yang sejuk, dan wangi kopi warnanya, udaranya, dan aromanya masih ada di ingatanku tergambar jelas di penciumanku selalu tersisa ruang untuk menikmati satu pagi di Minggu kala itu tiga puluh tahun lalu entah apakah mereka memahami apa yang aku tulis aku pun tak memaksa mereka mengerti yang ku rasa sepotong kecil kenangan yang selalu aku jaga hingga lupa tak berani merenggutnya dari ingatku tbrm, agatha Maret, 8 2018

karena pada akhirnya, kau tetap pergi

aku yang mencoba tangguh tapi kau lemahkan dengan perhatian aku yang mencoba kuat tapi kau belenggu dengan kasih sayang jika hadirmu sesaat jika janjimu pemanis jika cintamu semu untuk apa masuk terlalu dalam sudahi akhiri dan tinggalkan saja aku di sini sendiri tenang, aku sudah pernah patah hati sebelum denganmu dan aku sudah terbiasa dengan kehadiran orang baru jadi, tak usah datang menghampiriku menawarkan tanganmu untuk ku genggam membawaku berjalan melewati bukit jika ternyata kau melepaskanku di ujung tebing tanpamu, aku masih bisa bernafas

teruntuk : pelangi

terimakasih telah mewarnai langitku dulu sebelum kau datang, aku hanyalah biru yang biasa yang kadang dihiasi awan putih bergelombang, ombak pilu, ketika mendung mendayu, ingin mengadu lalu merasa tak berarti ketika terik begitu silau      membuat manusia tak ingin memandangku dan malu ketika jingga senja terlihat lebih indah      manusia tak menyadari adaku dan kemuraman yang membuatku sedih luruh dengan warna yang kau balutkan lebur setelah lengkungan indah yang meski tak setiap saat kau bagikan banyak kata yang harus aku rangkai      agar kau mengerti betapa bersyukur kau diciptakan tapi tak mampu sejuta aksaraku menyamai keindahanmu untuk hidupku terimakasih, meski warna itu untuk dunia kau tetap hadir dengan warnamu

kasmaran

akhh... sudahlah... jangan terlampau sering menunjukkan pesonamu bahkan cara berjalanmu itu bisa membuatku berdebar apalagi kau berkenan memberikan lengkung bibir itu buatku rasanya bisa mati sedetik seketika itu kau begitu mengagumkan dan aku begitu mengagumimu sedari dulu dari awal kau bertutur kepadaku dari awal aku mencuri tajammu dulu hingga kini, masih saja mengagumimu kau mengagumkan dengan caramu dan aku mengagumimu lewat aksaraku maka hanya akan menjadi sajak tak bersubyek kali ini tak perlu juga menambahkan obyek lain apalagi sampai menyertakan keterangan untuk mempertegas lagi kekagumanku yang tak akan pernah pudar, bahkan menghilang kapan pun sampai kapan pun kau kekaguman yang tak pernah membosankan