Langsung ke konten utama

Postingan

Perempuanku

Menatap sayu bayangan senja Kemana kau langkahkan hidup Mengapa tak segera berpulang Pelukanku sudahkah terasa getir Hingga tiada lagi sudi kau mencumbuku Kekasih, aku masih menunggu Menanti setitik asa akan kembalimu Tiada pernahkah kau tau Rindu ini terlampau mengganggu Sedang kau tak pernah hilangkan ragumu akan setiaku Cintaku begitu tulus kepadamu Namun kau tak pernah memaafkanku Sungguh dia di sana hanya fana Dan aku hanya tergoda Engkaulah kasih yang aku mau Yang aku tuju Tak cukup percayakah kau dengan seriusku Tak cukupkah pembuktian dengan kesendirianku hingga kini Perempuanku Pulanglah Aku rindu Atau perlukah ku petik bintang untuk menghias wajahmu

PELACUR

Persetan dengan segala ucapan kalian Kalian pikir sudah hebat Bisa mempermainkan perasaan orang lain Ahh, pelacur macam kalian mana paham soal perasaan Kalian hanya paham tentang kepuasan diri Yang entah sampai batas mana kalian mencari Kalian itu cuma patung menurutku Yang tak punya tujuan jelas Manusia tapi tak punya nyawa Kenapa tak mati saja sih kalian Hanya memenuhi ruang gerakku Sedikit-sedikit mengadu tentang Om A Lalu tentang Om B Tak lama dengan Om C Kalian pikir aku senang mendengarnya Aku mendengar hanya kasian Siapa lagi yang mau berbagi kisah dengan pelacur seperti kalian Membuai mata dengan molek Menarik hasrat dengan nafsu Lalu menggerogoti sampai mampus para bajingan itu Sudahlah Aku jengah dengan mulut kalian Bisa kalian itu tak mempan mempengaruhiku Aku memang kere Tapi aku masih lebih terhormat Dari pada kalian yang senang mengobral cinta Dan menjual kesetiaan pasangan pada bajingan busuk itu

Batik Merah di Pagi Seusai Bulan Merah

Batik merahmu menggodaku Cerahnya menyejukkan rindu Meletupkan harapku untuk bisa sekedar bertukar sapa Atau setidaknya saling menanyakan keadaan Kau diam Aku pun ikut diam Seolah kita adalah asing Apakah perlu terlalu kuat menjaga gengsi kita ? Haruskah aku dulu yang bersuara ? Atau aku harus merendahkan ego untuk sekedar berucap, "Apa kabar, Mas?" Detik yang berjalan seperti mengusirku keluar dari tempatmu Memerintahkanku untuk segera mengikhlaskan, masa di mana aku bisa menikmati punggungmu Berlalu tanpa arti Tanpa pesan dan kesan Tapi saat langkahmu menuju tempat kau bersujud Kau torehkan seberkas senyum yang damai Senyummu itu penuh arti Menyejukkan kerinduan yang meradang Sungguh menenangkan dan menyenangkan Tatapan itu, masih saja tajam Namun begitu berbeda Tersirat rindu di sana Yang tak mampu kau aksarakan, pun kau ungkapkan Entah mengapa tak hanya sedetik kau menikam mataku Seperti memintaku untuk terus tetap lekat mengikuti ger...

My Son, My Sun

Aku melihatnya pertama kali. Awal saat dia menampakkan wajah tampannya. Menggemaskan. Dan ini adalah kebahagiaan yang tak ternilai dengan apa pun. Melihat tubuhnya menggeliat. Bibirnya yang mungil. Lucu. Dia jagoanku. Yang tak kurang dari sembilan bulan, aku nantikan kehadirannya. Bisa aku timang. Aku senandungkan lagu tidur untukknya. Tangisnya adalah suara merdu yang menggantikan lelahku. Ahh, aku tak pernah lelah merawatnya. Dengan penuh syukur dan bahagia, aku menggendongnya. Membuatkan susu formula. Karena aku tidak bisa memberi   ASI. Menggantikan popoknya saat dia pipis. Menggodanya saat menangis hingga dia bisa tersenyum. Mengajaknya bicara. Meski aku tak paham. Itulah kebahagiaan yang tak bisa aku ungkapkan, betapa bahagianya aku. Pertumbuhannya bagus. Badannya gemuk. Wajahnya mengingatkanku pada seseorang. Aku yang mengajarkan dia bicara. Tanganku yang dia pegang, saat dia mulai belajar berjalan. Aku yang dia kejar, saat dia mulai bisa berlari kecil. ...

Mine

lagi apa mas ? di kantor gag pulang ? nanti, gimana ? kamu ga pulang iya abis ini, lagi beres” nih                 pulang tar aja ya                 nemenin aku emang kamu lagi ngerjain apa ? nemenin via chat ?                 iya dong, masa kamu nemenin di sini hahaa, sapa tau ngarep gitu                 hehe                 kamu uda maem ? belom.. mau nraktir yaa ?                 nanya doank trus aku suruh nemenin gimana ini ? kalo nemenin chat berarti kamu gag ngapa”in donk kapan gawean kelar ? ...

Yang (Telah) Meninggalkanmu

Jangan memandangku seperti itu, Manis Kau adalah alasanku untuk bertahan Senyummu seakan terang yang ingin ku genggam Sinis kecewamu seperti pisau yang menikam Sesalku pernah abaikan perasaan Atau gengsi yang terlalu, yang pengecut ungkap kenyataan Aku mengerti kecewamu, Manis Tapi sungguh, melepasmu dulu bukan pilihanku Ku lakukan, karena besarnya angan milikimu Kau pujaan berjuta lelaki Tapi tiada pernah aku sadari, akulah pemilik hati Dan sungguh bodoh, justru aku yang berlari Meninggalkanmu, melepas dirimu sebagai mimpiku Mengabaikanmu, menggores luka dalam hatimu Akan terus ku kejar dirimu Hingga senja berganti kelam Tak akan surut aku berlantang Suarakan perasaan Hanya kepadamu

Tak Seirama

Aku pernah menginginkanmu. Dan aku pun yakin, kamu juga pernah menginginkan aku. Kita sama-sama tau, kita saling menginginkan. Tapi, kita juga sama-sama tau, kita hanya menyimpan perasaan. Tak berani ungkapkan. Tak berani tunjukkan. Tak berani menyatakan. Sampai kenyataan membawaku pada seorang lelaki. Mendekatkanku dengan dia. Sementara, kamu masih saja berdiam hati. Entah perasaanmu saat itu. Kecewakah. Sedihkah. Menyesalkah. Atau kamu mewajarkan takdirku. Aku menikmati waktu yang berlalu dengan lelakiku. Aku tak lagi ingat asaku terhadapmu. Dan aku tak tau, siapa pemilik hatimu. Masih dirikukah. Atau telah bertahta wanita di sana. Aku menjauh. Demi rasa yang telah tumbuh berkembang untuk lelakiku. Dan kamu pun seperti tak peduli. Sapa tak terucap. Salam pun tak mampu kita selipkan di antara rindu. Aku tau, kamu menanyakan kabarku kepada angin. Kamu menitipkan doa tentangku kepada awan. Kamu ceritakan gebu rindumu kepada hujan. Tapi tak pernah mampu tutur menjabat perjumpaan...