Langsung ke konten utama

Postingan

KOREKSI

Pernyataannya mengusik pikiranku. Dan dia mengaku memilih untuk bekerja ketimbang sekolah. " Kulo nggih taksih pengen sekolah tapi mboten wonten duite ," katanya tak berhenti memanggul sekarung penuh hasil kebun. Bukan hasil kebun milik orang tuanya yang sedang dia pikul, tetapi bocah lanang yang seharusnya masih duduk di kelas 5 itu, memilih putus sekolah sejak kelas 4 sekolah dasar. Miris. Untuk saya itu sangat miris. Untuk apa memikirkan biaya pendidikan? Pemerintah menggalakkan program wajib belajar. Ada banyak bantuan digulirkan. Digontorkan kepada para siswa. Operasional sekolah dijamin pemerintah. Harusnya sudah tidak ada lagi pungutan dari sekolah untuk para murid. Mengatasnamakan komite, memakai nama sumbangan sukarela yang lucunya sudah ditentukan nominal yang kudu dibayar. Alibi yang cukup cerdik. Dia terengah-engah sesampainya di kaki bukit. Sesaat dia mengambil nafas, lalu berjalan (lagi) menuju perbukitan. " Nggih mboten isin, wong kulo ngrewangi bapak ka...

dendam lalu

jalanku bukan untuk mundur tetapi untuk melangkah maju cobaan dan ujian, satu per satu terlalui meski harus jatuh bangun melewatinya aku sadar, tak sekuat aku melawan masa lalu setiap detil kenangan masih tersimpan dalam memori meski enggan aku merapikannya bertumpuk bersama penyesalan dan dendam tak seharusnya aku menyimpannya tapi itu harus tersimpan entah kapan aku akan mensyukuri pernah melalui masa lalu itu setidaknya dari masa lalu itu, aku berdiri di masa sekarang, untuk masa depan

untitled

hembusan itu. . . masih aku hapal aromanya wangi rumput basah bercampur dengan embun pagi ditambah tangguhnya air sungai yang gemulai memecah batuan hitam ekstra semburat oranye matahari mencuat di antara pegunungan yang menghadang pandang rasanya masih sama membelai lembut, menyentuh mesra seolah mengecup tubuh hembusan itu. . . aku rindu merasakan hembusan itu bersamamu ingin sekali lagi berbagi hembusan itu bersamamu meski hanya sesaat ahh. . . seperti bermimpi saja kau mungkin bisa melihatku menikmati hembusan itu tapi aku tak pernah tau apakah kau ada di sampingku atau tidak saat merasakan hembusan itu karena kau fana dan aku nyata yang tak mungkin disatukan dipaksa pun tak akan bisa kita berbeda

selesai

jangan pikir segala yang kamu perbuat itu benar jangan merasa semua yang kamu lakukan itu tepat dan jangan menganggap aku mau menuruti segala hal yang kamu anggap benar dan tepat karena kamu bukan nyawaku karena kamu tidak menjadi ragaku selesai !!

saya tidak suka mereka

saya tidak suka dengan mereka mereka yang merasa berkuasa atas kamu mereka yang mengaku bertanggung jawab atas kamu teladan macam apa mereka yang memberikan kamu ke orang lain entah apa alasannya saya memang tidak punya hak untuk menyidang mereka tapi saya tidak pernah bisa terima perlakuan mereka mereka pikir mereka siapa mereka punya adat yang aneh mereka itu tidak pantas mereka itu... sudahlah... saya hanya ingin mengatakan itu mengungkapkan apa yang ada di hati dan pikiran saya bahwa sampai kapan pun saya tidak akan pernah respek dengan mereka apa pun penjelasan yang kamu katakan pada saya terimakasih

ketakutan

lautan itu memang dalam, tapi aku masih bisa menjamah dasarnya sedangkan hatimu, tak pernah aku taui seberapa dalamnya kesungguhan cintamu padaku luasnya samudra bisa aku jelajahi, tapi tetap saja tak bisa aku menjelajah seberapa luas tanggung jawabmu atas kepercayaan yang aku berikan aku tak pernah tau apakah kau benar-benar tulus menyayangiku apakah aku berarti di hidupmu apakah kau yakin pilihanmu itu memang aku aku takut, aku hanya tempat persinggahan yang sesaat menjagamu dalam lelah bukan tempat kau labuhkan hidupmu selamanya masih saja aku tak tau agha sanusi.090812