Langsung ke konten utama

KOREKSI

Pernyataannya mengusik pikiranku. Dan dia mengaku memilih untuk bekerja ketimbang sekolah. "Kulo nggih taksih pengen sekolah tapi mboten wonten duite," katanya tak berhenti memanggul sekarung penuh hasil kebun. Bukan hasil kebun milik orang tuanya yang sedang dia pikul, tetapi bocah lanang yang seharusnya masih duduk di kelas 5 itu, memilih putus sekolah sejak kelas 4 sekolah dasar.
Miris. Untuk saya itu sangat miris. Untuk apa memikirkan biaya pendidikan? Pemerintah menggalakkan program wajib belajar. Ada banyak bantuan digulirkan. Digontorkan kepada para siswa. Operasional sekolah dijamin pemerintah. Harusnya sudah tidak ada lagi pungutan dari sekolah untuk para murid. Mengatasnamakan komite, memakai nama sumbangan sukarela yang lucunya sudah ditentukan nominal yang kudu dibayar. Alibi yang cukup cerdik.
Dia terengah-engah sesampainya di kaki bukit. Sesaat dia mengambil nafas, lalu berjalan (lagi) menuju perbukitan. "Nggih mboten isin, wong kulo ngrewangi bapak kalih ibu. Ketemu konco-konco dados pengen sekolah malih. Kersane pinter, saged pados gawean ingkang luwih apik saking bapak, saged golek duit kathah" katanya sambil menerawang.
Kemana perginya lembaran uang bantuan yang tiap waktu diberikan pemerintah? Para pembagi ilmu berteriak jika bantuan terlambat datang, tapi apakah bantuan yang "seharusnya" untuk siswa benar-benar sepenuhnya untuk siswa?
Lalu untuk apa mereka yang seharusnya bisa bersekolah tanpa memikirkan biaya harus terhenti jalannya?
Koreksi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Awal

Aku bukan ketiga dari rentangmu dengan dia Kau sendiri bukan pelarian dari kisahku yang berakhir Jika memang aku teman hidupmu Lantas mengapa berlama menautkan hati kita Mengapa harus bertemu dan berkasih dengan hati yang dulu Sedang kau begitu setia menjaga rasa Di antara raguku yang menyergap di awal Dengan sombong, ku cegah pedulimu meluluhkan angkuh Ku batasi rasa rinduku agar tak kerap wajah kita beradu Dan kau memenangkan segala kelebihanku Dengan menyapa kekuranganku penuh hangat Hai pria yang kini bersamaku Mari eratkan genggaman Karena kita tak pernah tau Kapan godaan dan ujian menghampiri Sekedar mampir atau ingin memporakporandakan Kepada teman hidupku yang tetap bertahan Terimakasih telah membuatku juga bertahan Kecup dan pelukku untukmu tertanda, Perempuan yang selalu menjadi teman tidurmu

bidadari

mengapa engkau pergi di mana engkau kini ke mana kami mencari peri kecil kami, telah menjadi bidadari tak terasa telah dewasa tapi jangan pernah pergi tinggalkan kami kembalilah bidadari kami engkau kuat, kami tau itu tapi tiada arti engkau sendiri pulanglah bidadari kami menanti di setiap detik berganti buat adekku, etta

terimakasih, masa lalu

bahkan, setiap luka yang kamu berikan, bisa saja aku menjabarkannya dengan detail tapi buat apa ? toh, kamu pun bersikap semua kesalahanmu itu adalah khilaf yang harus aku maafkan kamu mengucap maaf untuk memulai lagi kesalahan yang baru dan aku hanya bisa takjub, semudah itu ? aku selalu mengataimu sadis, dan berharap karma akan mengetuk hidupmu satu saat nanti tapi tak aku lanjutkan, karena satu kata sakti yang bisa aku raih ikhlas aku berdiam saja dengan dramamu, aku bisa tersenyum saat kamu mulai mengarang absurd aku cukup menata keporakporandaan dari sakit hati yang selalu kamu bagi dan apakah kamu menyadari, semesta tak akan tinggal diam dengan ulahmu semesta telah membiarkanmu merasakan apa yang aku rasakan dulu terimakasih, masa lalu darimu aku belajar, bahagia itu tak harus menunggu bahagiaku aku ciptakan dengan sosok yang bisa menghargai segala pemikiranku, ambisi jiwaku, dan kerumitan yang dengan suka cita aku urai bersama dia