Langsung ke konten utama

Postingan

mendung

aku sendu pelangiku luruh berganti kelabu aku hanya merindukanmu tapi tak sedikit pun kau peduli rasaku sudahi saja jika ingin aku berlalu dan segala asaku dulu ku anggap kau sudah tak mau tau

sepotong kecil kenangan yang selalu aku jaga

suatu pagi di Minggu yang cerah langit menghampar biru tak ada setitik putih gumpalan awan berlarian aku pulang ke rumah tubuhku penuh peluh namun hawa bumi begitu menyejuk raga pun aroma kopi buatan ibu diletakkan saja di atas meja entah untuk siapa beliau menyeduhnya aku ambil gelasnya dan aku ciumi harumnya aku terbaring, terdiam, terpejam langit biru, pagi yang sejuk, dan wangi kopi warnanya, udaranya, dan aromanya masih ada di ingatanku tergambar jelas di penciumanku selalu tersisa ruang untuk menikmati satu pagi di Minggu kala itu tiga puluh tahun lalu entah apakah mereka memahami apa yang aku tulis aku pun tak memaksa mereka mengerti yang ku rasa sepotong kecil kenangan yang selalu aku jaga hingga lupa tak berani merenggutnya dari ingatku tbrm, agatha Maret, 8 2018

karena pada akhirnya, kau tetap pergi

aku yang mencoba tangguh tapi kau lemahkan dengan perhatian aku yang mencoba kuat tapi kau belenggu dengan kasih sayang jika hadirmu sesaat jika janjimu pemanis jika cintamu semu untuk apa masuk terlalu dalam sudahi akhiri dan tinggalkan saja aku di sini sendiri tenang, aku sudah pernah patah hati sebelum denganmu dan aku sudah terbiasa dengan kehadiran orang baru jadi, tak usah datang menghampiriku menawarkan tanganmu untuk ku genggam membawaku berjalan melewati bukit jika ternyata kau melepaskanku di ujung tebing tanpamu, aku masih bisa bernafas

teruntuk : pelangi

terimakasih telah mewarnai langitku dulu sebelum kau datang, aku hanyalah biru yang biasa yang kadang dihiasi awan putih bergelombang, ombak pilu, ketika mendung mendayu, ingin mengadu lalu merasa tak berarti ketika terik begitu silau      membuat manusia tak ingin memandangku dan malu ketika jingga senja terlihat lebih indah      manusia tak menyadari adaku dan kemuraman yang membuatku sedih luruh dengan warna yang kau balutkan lebur setelah lengkungan indah yang meski tak setiap saat kau bagikan banyak kata yang harus aku rangkai      agar kau mengerti betapa bersyukur kau diciptakan tapi tak mampu sejuta aksaraku menyamai keindahanmu untuk hidupku terimakasih, meski warna itu untuk dunia kau tetap hadir dengan warnamu

kasmaran

akhh... sudahlah... jangan terlampau sering menunjukkan pesonamu bahkan cara berjalanmu itu bisa membuatku berdebar apalagi kau berkenan memberikan lengkung bibir itu buatku rasanya bisa mati sedetik seketika itu kau begitu mengagumkan dan aku begitu mengagumimu sedari dulu dari awal kau bertutur kepadaku dari awal aku mencuri tajammu dulu hingga kini, masih saja mengagumimu kau mengagumkan dengan caramu dan aku mengagumimu lewat aksaraku maka hanya akan menjadi sajak tak bersubyek kali ini tak perlu juga menambahkan obyek lain apalagi sampai menyertakan keterangan untuk mempertegas lagi kekagumanku yang tak akan pernah pudar, bahkan menghilang kapan pun sampai kapan pun kau kekaguman yang tak pernah membosankan

berdua, bersama

senja kala itu terlewati dengan pelukan rindu membasuh suatu rasa tertahan, lama tak bertemu lalu kecupan-kecupan manismu membasah di bibir dekapan-dekapan mesramu menghangat di tubuh kau tak perlu pergi lagi di sini saja menghabiskan pagi dan sore menertawai kesedihan yang mungkin akan kita hadapi menangisi kebahagiaan yang terlalui bersama dan tetaplah di sini menatap bintang tersapu fajar

sekeping hati dan undangan pernikahan

sore itu ku dengar kabar tentang pernikahanmu lalu aku temukan undangan yang terselip di antara tumpukan berkas di atas meja kerja mengapa ? bukankah kita sudah berakhir tak ada lagi yang perlu diukir bahkan kehadiranku di pernikahanmu berbahagialah saja kau dengan pasanganmu tak usah pedulikan aku dan kehadiranku dan kau pun tak perlu tau bagaimana kemarin aku tertatih mencoba berdiri dan bertahan dalam sekeping hati yang kau sakiti aku sudah bahagia tegak berdiri menggandeng tangan seseorang yang bahagia melihatku bahagia