Langsung ke konten utama

Postingan

kepada kekasih

ketika semburat senja perlahan menghilang menggantikan terang hari ke redup malam menyisakan nafas perjuangan jejak keringat masih terlalu lama waktu menyiratkan kilau pagi untuk apa jika tak bisa mendesah dan menyesapi nikmatnya purnama bersamamu aku kesepian, aku sendiri, dan aku tak suka jika memang kau pelihara rasa, pulanglah buatlah aku menikmati cumbuanmu, di purnama kedua

Feelings part 1

“Kalau Anda sudah menjadi seseorang yang tanpa cela, silahkan maki saya,” Tere berbicara dengan tegas dan menantang. “Kamu berani sama saya,” tanya lelaki yang sekarang sedang memimpin rapat. Wajahnya merah setelah kalimat sindiran yang begitu menohok dari Tere. Semua orang yang ada di ruang rapat, yang tak kurang dari sepuluh orang itu, hanya diam. Kecuali mulut Tere yang sedari awal rapat begitu kerap mengkritik kinerja pimpinan perusahaan. Yang baru tiga bulan dipimpin oleh seorang lelaki tampan dari klan Sudibyo. “Silahkan cek di daftar absen saya. Apa saya pernah datang lebih dari jam sepuluh ? Apakah saya pernah pulang sebelum jam dua belas ? Kalau Anda ingin membela diri dengan mengatakan, Anda pimpinan perusahaan, apakah Anda peduli dengan keterlambatan pembayaran gaji para karyawan ? Anda pimpinan, tapi tidak bisa menjalankan tugas Anda sebagai seorang pemimpin. Bahkan untuk mendapatkan persetujuan Anda tentang pengajuan gaji bulan ini, bagian keuangan harus menunggu se...

mantanmu masa lalumu, kau masa depanku

ketakutan

sepertinya kau belum terlalu paham bagaimana perasaanku setidaknya setelah kisah kita berakhir mengapa aku begitu takut jika kau berubah sikap mengapa aku begitu khawatir ketika kau tak bertukar kabar mengapa aku lebih menunjukkan posesifku karena aku hanya pengalaman yang telah kau lewatkan karena aku hanya seorang mantan yang tak lagi berhak atasmu bisakah aku memaksamu untuk terus setia kepadaku bisakah aku memaksamu untuk selalu memberi kabar tentangmu bisakah aku memaksamu untuk tidak melakukan ini dan itu aku menyadari siapa aku kini dan aku pun harap kau memahami betapa takutnya aku kehilanganmu selebihnya, jika aku terlihat banyak berulah aku hanya berharap, kau bisa mengerti mengerti perasaanku bukan terganggu karenanya

sesal

deru-deru memburu degup memacu aku terpaku dalam bisu kau utarakan cintamu hanya ku ibaratkan gurau lalu kau kecewa kemudian pergi dan tak pernah kembali meski sekedar berucap rindu