Langsung ke konten utama

Postingan

Waktu

Terkadang aku ingin memarahi waktu Begitu jahat Melambat saat hati tak sabar menunggu pertemuan Melaju saat mata tak ingin terpisah jarak Menyesakkan dada saat telah terpisah Dan entah kapan akan sua Tapi di sanalah kita nanti berada Di satu waktu yang akan menyaksikan kita berikrar Waktu yang menjadi saksi Kebersamaan kita sampai mati

Khilaf di Antara Cinta Sang Mantan

Dulu kau cintaku, aku cintamu Dulu kita berdua, bersama Sampai kau bilang, "Kita putus saja, Sayang." Aku sendiri, kau sendiri Kita berjalan tapi tak bersama Sampai kau bilang, "Aku kangen kamu." Aku [masih] sendiri, kau [lebih dulu] berdua Aku bahagia, kalian bahagia Sampai kau bilang, "Dia egois." Kau mendekat, aku terjerat Kau terpikat, aku mengikat Sampai kau bilang, "Aku masih sayang kamu, Honey." Aku bahagia, kau bahagia [Entah bagaimana dia] Kita bersama, meski tak sejalan Sampai kau bilang, "Dia nggak sebaik kamu." Kau terlena, aku tergoda Kau jatuh cinta, tapi aku tak ingin jatuh Sampai kau bilang, "Apa kurangnya aku ?" Kau sebut ini cinta Aku sebut ini khilaf Kau lupa aku pernah bilang, "Mantan cuma masa lalu, yang boleh dikenang tapi gak layak untuk dikenakan."

[karena] CINTA Harus Memiliki

Aku berjalan dengan santai dari tempat aku memarkirkan motor sampai masuk kantor. Masih sepi. Setelah menempelkan jempol di alat yang menempel di dinding dekat ruang resepsionis, aku duduk di sofa ruang tamu. Mengambil gadget yang ada di tas lalu mulai mengusap layarnya. Membalas beberapa pesan di BBM , Line , dan Whatsapp . “Hai, Ra. Pagi amat sampe kantor,” sapa Aril yang pagi ini terlihat rapi dengan kemeja warna coklat muda, sambil absen. “Yoi,” balasku singkat, sesaat melihatnya lalu kembali ke layar gadget . “Mau bareng,” tanya Aril yang sudah berdiri di depanku. Aroma parfumnya membuat darahku berdesir. Wangi laut. “Boleh deh.” Aku berdiri setelah menyimpan gadget di tas. Dan sebaiknya aku menyiapkan mental untuk berjalan bersama Aril. Apalagi hanya berdua. Bukan sekedar isu murahan lagi, Aril dan aku pernah terlibat cinta. Cinta yang hanya disimpan. Tanpa pernah diungkapkan. Cinta yang berawal dari nyaman. Lalu mengubah yang biasa menjadi perhatian. Dari pert...

Kau, Aku, Keyakinanmu, dan Kepercayaanku

Semilir berhembus Tapi tak juga menyejukkan gelisahku Perbincangan yang kau ciptakan siang ini,      begitu menyesakkan nalarku Kau. . Kau itu. . . Arghhh. . . . . . . . Kau dengan keyakinanmu Aku dengan kepercayaanku Kita sadar kita berbeda Kita tau kita tak sama Mengapa dipaksakan ? Bukankah akan saling menyakiti jika tak mampu bersama Atau kita yang terlalu berani memilih jalan kita sendiri untuk kita lalui berdua Kau dengan langkahmu Aku dengan langkahku Menuju titik yang sama Beriringan tapi tak bergandengan Karena kita tau, kita memang berbeda Kau dengan aturanmu Aku dengan aturanku Begitulah kita Kita berbeda

Mimpi Sederhana

Pantai Klayar, Pacitan aku ingin duduk berdua denganmu, berdampingan di tepian karang, menjuntaikan kaki-kaki kita yang penuh dengan peluh pasir menikmati laut luas, yang seakan tak terbatas merasakan kecupan angin, yang membelai dalam terik mendengar ombak bergemuruh, memecah saat berhadapan dengan karang membiarkan matahari membakar raga dengan ganas menikmati percikan ombak, yang berbenturan dengan karang tempat kita terdiam lalu, genggaman kita semakin erat beriringan dengan doa terucap aku ingin memilikimu, dan aku ingin menjadi milikmu hanya itu saja bisakah kau mewujudkannya ?

Ombak, Mata, dan Perasaan Kita

Dan begitulah laut menyampaikan pesan kepada pantai, melalui ombak Pun aku, yang sampaikan pesan tentang perasaan kepadamu, melalui mata Tak perlu puluhan nyiur kelapa melambai, memanggil laut Tak usah ratusan kata terucap mulut, bersuara kerinduan Di sinilah kita berada Di pantai yang begitu riang tersentuh ombak Di antara nyiur yang meneduhkan Dan di antara jarak yang terbungkam diam Hanya karena mata kita telah berbicara Bercakap tentang dalamnya perasaanku yang tulus Dan kerinduanmu pada sosok pelindung Di sinilah kita dimulai Memulai Sebuah kisah, kasih, perjalanan, dan perjuangan Berdua Hanya kau dan aku Mulai saat ini, dan seterusnya