Langsung ke konten utama

Postingan

tamu undangan

aku menatapmu pilu sungguh, aku ingin kembali mendekapmu bukan untuk mengajakmu berkomitmen aku hanya ingin melakukan itu hanya ingin mendekapmu memelukmu dan aku akan mencium wangi mawar di rambutmu aku hanya ingin memelukmu tidak lebih dari itu aku merindukanmu dan aku, masih saja menatapmu pilu karena aku masih saja tak mampu memelukmu mendekapmu aku hanya bisa berdiam berdiri di atas pelaminan bersama mempelaiku dan kau.. kau hanya tamu undangan yang menatapku dengan senyum kepedihan

dulu dan sekarang

aku pernah mencintaimu (dulu) aku pernah menyerahkan segala yang aku punya untukmu (dulu) aku pernah mempertaruhkan hidupku untuk melindungi ragamu (dulu) pernah aku lakukan semua itu (dulu) tapi tidak (sekarang) tidak ada lagi cinta (sekarang) tidak ada lagi persembahan untuk yang tercinta (sekarang) tidak ada lagi pengorbanan jiwa (sekarang) kamu berarti di hidupku dulu kamu penyesalan di hidupku sekarang aku mau terus maju aku mau lupakan kamu yang gag lebih dari sekedar sel kanker yang merusak, menggerogoti ragaku sekarang, silahkan jadi benalu untuk para lelaki itu parasit !!

aku (tak) bisa tanpamu

kau bisa bungkam mulutku tapi tanganku masih bisa bersuara menuliskan perasaanku melukiskan air mataku kau bisa memotong tanganku tapi otakku masih bisa bernyanyi melagukan sendu kehilanganmu menggumamkan ketakutan tanpa adamu kau bisa bunuh aku tapi roh setiaku senantiasa bersamamu menjagamu dengan pria perkasamu yang telah mengambilmu dariku aku belum bisa melepasmu aku belum mampu mengurai utuhmu bahkan setelah kau (benar-benar) membunuhku aku pastikan, kau yang terakhir dalam hembusan ajalku

H.u.J.a.N

tik. . tik. . tik. . setetes demi setetes air jatuh memberikan nyawa pada hidup yang merindukan hujan rohnya sedikit terguncang raganya masih tetap tenang ahhh..... aku menyenangi hujan ini hujan yang memberiku sentuhan lewat dingin yang membelaiku dengan angin ku tarik nafasku, panjang dan hembuskan pelan namun pasti nafas terakhirku nafas di saat hujan baru memulai derasnya malam ini sampai jumpa, di hujan yang entah kapan akan menghidupkanku kembali atau mungkin ini pertemuan terakhir karena hujan enggan menyawakan ragaku lagi

merenung

terdiam, atau tepatnya mendiamkan diri memberi ketenangan pada jiwa mencari keresahan-keresahan yang selama ini mengganggu mengusir mereka pergi dari hati terpaku, memakukan diri pada sebuah janji bukan tuntutan, tapi keikhlasan batin berbakti, membaktikan hidup kepada yang disebut kepala mengabdikan raga dan rohku termenung, atau aku sengaja merenung memikirkan pengabdian yang telah terurai lewat tawa saat kekurangan atau waktu tangis dalam bergelimang lebih masih ada yang bisa aku lakukan masih banyak yang belum ku nyatakan menyatakan setiap impian kecilnya yang berharap penuh mendapat anggukan optimisku terus berjalan priaku, berjalanlah di sampingku gandeng aku agar aku tak terlepas, atau melepas diri dari ikatan yang kita sebut keluarga *spesial untuk suamiku, anas sanusi

T E R I T O R I A L

jangan hiraukan jangan risaukan terus jalan terus melangkah jangan berhenti jangan meragu terus yakin terus percaya jangan dengarkan jangan pusingkan biarkan berkomentar biarkan beranggapan jangan mengusik jangan mengganggu biarkan berkembang biarkan terbang saya memiliki hak atas apa yang saya lakukan dan saya bertanggung jawab atas apa yang saya lakukan