Aku sedang mengantri dalam sebuah barisan kasir yang cukup panjang. Aku terus mengutuk kakakku, Evan, karena dialah penyebab aku masih terjebak dalam kerumunan pecinta makanan cepat saji. Masih ada empat orang di depanku. Dan kelelahanku berdiri akan berakhir. Ponselku bergetar. “Dek, lu masih lama nggak ngantrinya ? Masih berapa orang di depan lu sekarang,” suara Evan yang terdengar dari ponselku terkesan santai dan tanpa dosa. “Masih ada empat nih, Bang. Lu nggak usah bawel deh. Gue uda capek banget ini,” balasku dengan kesal. “Nah justru itu. Lu balik aja gih. Edo ke sini. Dia bawain. Persis sama yang gue pesenin ke elu. Hehee. . . lu balik aja ya, Dek,” Evan menahan tawanya. Tak tega sebenarnya. Aku langsung memutus panggilannya. Mengambil nafas panjang dan keluar dari barisan. Evan dan Edo tertawa tak sopan saat aku memasuki rumah. Aku hanya berjalan cuek dan tak menghiraukan mereka. “Kucel banget sih muka lu, Rin. Abis diapain lu,” celetuk Edo lalu disambung dengan t...
mengungkap rasa lewat kata